Jumat, 21 Januari 2011

Saat kebenaran sangat sangat susah ditemui

Hingar bingar pemberitaan di media cetak dan eletronik rasanya selalu didominasi topik mengenai kasus hukum, kritikan terhadap pemerintah, pemerintah yang selalu mencoba mengumbar keberhasilan dan menutupi kegagalannya. Kasus cenruty belum lagi selesai, muncul kasus-kasus berikutnya yang seolah-olah seperti memang dimunculkan untuk menutupi kasus-kasus terdahulu.


Rakyat yang untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sudah sangat susah, setiap hari harus menyaksikan 'panggung sandiwara' tanpa bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah menerima nasib. Harapan perubahan ke arah yang semakin baik pun dirasakan semakin jauh dan tak mungkin tercapai. Kalau mengingat janji manis penguasa 'terpilih', ada semacam perasaan geram dan merasa dibohongi.

Baru-baru ini para tokoh agama di negeri ini yang merasakan kepedulian yang sama terhadap nasib bangsa ini, bersepakat untuk memberikan semacam kritikan dan masukan kepada pemerintah terkait janji manis penguasa yang sepertinya hanya janji manis di bibir tanpa realisasi yang nyata. Kesepakatan ini melahirkan kritik bertajuk kebohongan pemerintah. Kalau pemerintah saja sudah hobi berbohong, mau dikemanakan nasib bangsa ini?

Di negeri ini, kebenaran sepertinya menjadi barang yang sangat langka. Pemerintah seolah-olah tutup mata dan telinga, seolah tak mau peduli bahwa realita yang ada menggambarkan bahwa ternyata masih banyak rakyat yang nasibnya di bawah garis kemiskinan, angka pengangguran yang dikatakan pemerintah sudah semakin menurun nyatanya tidaklah demikian. 

Semoga hobi pemerintah berbohong tidak menjadi tradisi budaya yang tumbuh subur di negeri ini. Semoga.

20 komentar:

  1. mungkin bukan berbohong tapi belum sempat terwujud hehehe

    BalasHapus
  2. semoga saja negeri kita kita ini akan menjadi lebih baik lg dimulai tahun ini sampe ke tahun mendatang... amiin

    slm knl jg

    BalasHapus
  3. Biasanya penguasa mengatakan bahwa rakyatlah yang
    salah mengerti apa yang dimaksud oleh penguasa.

    BalasHapus
  4. Semua itu karena nafsu amarah serta daya pikat materi sob kalo sudah urusan materi mereka seolah tidak perduli dengan siapapun jangan rakyat misikin yg nun jauh disana kadang tetangga sebelah saja yg sedang sakit di hiraukan dan semua ini bermula karena kurang rasa empati terhadap sesama dan agama hanya di jadikan tameng sama mereka dan dijadikan alat untuk meraup keuntungan makanya orang kecil seperti kita ini mau mencari kebenaran dan keadilan dimana sementara elit politiknya saja sedang berebut ambisi.

    Salam

    BalasHapus
  5. @waroeng cofee : kalau sama sekali tak terwujud...sama saja berbohong....he he he

    BalasHapus
  6. @multibrand : pemerintah menjadi penuk retorika

    BalasHapus
  7. @daun: begitulah kira2.....

    BalasHapus
  8. sekarang bingung mau mempercayai siapa...

    BalasHapus
  9. pekerjaan yang berat itu emang menjaga amanah.. yaa mungkin pemerintah kita baru dalam tahap "belajar"

    BalasHapus
  10. penguasa mengusai "kebenaran" jadi mereka bisa bebas "mengaturnya"

    :nasib rakyat jelata:

    BalasHapus
  11. Sebuah realita yang sangat menyakitkan memang jika kita mengetahui tentang hal ini, betapa bobrok dan hancurnya moral para pemimpin kita. kita ini emang negara demokrasi, tapi demokrasi kriminal alias demokrasi korupsi.

    BalasHapus
  12. makanya kadang saya gak terlalu berminat ngikutin berita politik indonesia... :(

    BalasHapus
  13. Pemerintah berbohong itu udah mendarah daging di indo >.<

    BalasHapus
  14. biasa, orang yang sudah diatas slalu lupa akan anak tangga yg pernah menjadi pijakannya...

    BalasHapus
  15. Lho...sudah tugas pemerintah toh membohongi rakyat. Bukan lagi tradisi, tapi profesi.

    BalasHapus
  16. manis di awal pahit di belakang

    BalasHapus
  17. @ All : jaman ini susah sekali menemukan penguasa yang benar-benar jujur. Selalu saja penuh retorika dan kebohongan. Kalo toh kemudian berusaha jujur....banyak kaki tangan yang kemudian membelokkan niat jujur ke arah yang tak seharusnya. TRAGIS !

    BalasHapus
  18. ternyata sekarang ini.. kebenaran harganya mahal ya mas :(

    BalasHapus